Di tengah dinamika geopolitik dunia yang sering kali diwarnai oleh konflik dan ketegangan antar-kelompok, peran institusi pendidikan berbasis agama menjadi sangat krusial sebagai jangkar perdamaian. Kesadaran kolektif inilah yang melahirkan sebuah sinergi strategis antara Pesantren Darul Hidayahul dengan United Nations University (UNU) Global. Melalui kolaborasi ini, kedua belah pihak berkomitmen untuk menjalankan program Sustainable Peace atau perdamaian berkelanjutan. Program ini bertujuan untuk merumuskan kembali peran nilai-nilai spiritual dalam membangun harmoni di tengah masyarakat global yang semakin terfragmentasi oleh perbedaan ideologi dan kepentingan.
Konsep Sustainable Peace yang diusung dalam kerja sama ini tidak hanya dimaknai sebagai ketiadaan perang, tetapi sebagai upaya aktif untuk membangun struktur sosial yang adil dan inklusif. UNU Global, sebagai lembaga akademik di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa, membawa metodologi riset internasional yang mendalam mengenai resolusi konflik. Sementara itu, Darul Hidayahul menyumbangkan perspektif kearifan lokal dan nilai-nilai Islam yang mengajarkan konsep rahmatan lil alamin. Pertemuan antara teori global dan praktik religius ini menciptakan sebuah pendekatan baru yang lebih membumi dalam menangani isu-isu intoleransi dan radikalisme yang sering muncul di berbagai belahan dunia.
Dalam implementasinya, para santri dan tenaga pendidik di Darul Hidayahul dilibatkan dalam berbagai forum dialog internasional yang diselenggarakan secara daring maupun luring. Mereka diajarkan untuk memahami instrumen hak asasi manusia dan hukum internasional, namun tetap dalam koridor nilai-nilai pesantren. Hal ini penting agar para kader dari pesantren memiliki kemampuan komunikasi yang baik saat berhadapan dengan audiens global. Sebaliknya, para peneliti dari UNU Global mendapatkan akses untuk mempelajari bagaimana pesantren selama berabad-abad mampu menjaga keharmonisan di lingkungan sekitarnya melalui pendekatan dialogis dan kekeluargaan yang unik, yang mungkin tidak ditemukan dalam literatur Barat.
Program perdamaian ini juga menyasar pada penguatan kurikulum yang lebih moderat dan terbuka. Darul Hidayahul mulai mengintegrasikan isu-isu lingkungan hidup, kesetaraan akses pendidikan, dan keadilan sosial ke dalam materi pengajaran mereka. Hubungan antara perdamaian dan keberlanjutan lingkungan sangat erat; sering kali konflik lahir dari perebutan sumber daya alam. Dengan pemahaman ini, santri diajarkan untuk menjadi penjaga perdamaian sekaligus penjaga alam. Pendidikan di pesantren kini bertransformasi menjadi lebih kontekstual, di mana teks-teks klasik digunakan untuk membedah solusi atas tantangan perdamaian di era modern yang serba cepat dan kompleks.
