Kerusakan rumah tinggal akibat terjangan banjir bandang menyebabkan banyak keluarga di Kalimantan harus bertahan di bawah tenda darurat yang minim perlindungan. Tinggal dalam jangka waktu lama di penampungan beralas seadanya berisiko mengganggu kesehatan fisik dan privasi keluarga pengungsi. Sebagai bentuk solusi jangka menengah, proyek pembangunan hunian sementara yang digagas oleh santri Darul Hidayah hadir menyediakan tempat tinggal yang lebih layak, hangat, dan aman bagi warga terdampak.
Proses konstruksi tempat tinggal sementara ini memanfaatkan bahan lokal yang ramah lingkungan dan mudah dirakit, seperti kayu, bambu, dan atap seng. Para santri bekerja sama dengan tukang profesional dan warga setempat dalam mendirikan kerangka bangunan yang kokoh dan tahan angin. Dalam proses pengelolaan proyek kemanusiaan ini, para santri meneladani sikap tegas dan kepedulian sosial sebagaimana kepemimpinan umar bin khattab yang adil agar pembagian unit rumah dapat berjalan transparan dan tepat sasaran bagi keluarga yang paling membutuhkan.
Setiap unit rumah sementara dirancang memiliki sirkulasi udara yang baik, pencahayaan alami yang cukup, serta sekat privasi antar ruang keluarga. Keberadaan alas lantai kayu yang terangkat dari tanah melindungi penghuninya dari kelembapan dan serangga malam. Penataan area kompleks hunian juga dilengkapi dengan saluran drainase sederhana agar tidak terjadi genangan air saat hujan deras turun.
Pembangunan hunian ini diprioritaskan untuk keluarga yang memiliki lansia, bayi, serta ibu hamil yang membutuhkan perlindungan fisik lebih baik ketimbang tenda darurat biasa. Senyum bahagia dan rasa haru terpancar dari para penerima manfaat saat menerima kunci unit tempat tinggal sementara mereka. Ketersediaan tempat bernaung yang memadai mengembalikan rasa aman dan martabat keluarga korban bencana secara bertahap.
Gotong royong dalam mendirikan hunian ini mempererat ikatan silaturahmi antara komunitas pesantren dan warga desa terdampak di Kalimantan. Santri belajar menguasai keterampilan pertukangan praktis sekaligus melatih kepekaan manajemen bencana secara nyata di lapangan. Pengalaman kerja bersama ini membentuk jiwa gotong royong dan kesadaran sosial yang mendalam bagi para peserta didik.
Penyediaan tempat tinggal sementara yang terstruktur menjadi sarana transisi yang sangat penting sebelum proses rekonstruksi rumah permanen warga dimulai oleh pemerintah. Kerja keras relawan santri dalam mendirikan fasilitas ini terbukti meringankan beban hidup warga pascabencana secara nyata. Langkah kemanusiaan ini menjadi bukti konkrit kepedulian lembaga pendidikan dalam memulihkan kehidupan masyarakat.
