Dunia pendidikan sering kali menghadapi tantangan berupa diskoneksi antara nilai-nilai yang diajarkan di institusi dengan pola asuh di rumah. Menyadari hal ini, Pondok Pesantren Darul Hidayahul mengembangkan sebuah model kolaborasi yang disebut dengan Parenting Islami. Program ini bertujuan untuk menciptakan sinergi yang harmonis antara guru di sekolah dan orang tua di rumah. Fokus utamanya adalah memastikan bahwa pembentukan karakter anak tidak terhenti saat mereka pulang untuk berlibur atau ketika mereka berkomunikasi dengan keluarga. Sinergi ini dianggap krusial karena pendidikan anak dalam Islam adalah tanggung jawab kolektif yang berpusat pada konsistensi nilai.
Langkah pertama dalam Cara Darul Hidayahul mengimplementasikan program ini adalah dengan mengadakan forum rutin bulanan bagi para wali santri. Dalam pertemuan tersebut, pihak pesantren memberikan laporan perkembangan akhlak santri sekaligus memberikan materi mengenai tips pengasuhan yang sesuai dengan tuntutan zaman. Pesantren menyadari bahwa banyak orang tua yang merasa kesulitan menghadapi anak-anak mereka di era digital. Oleh karena itu, pesantren memberikan panduan tentang cara berkomunikasi yang efektif dan penuh kasih sayang, tanpa harus kehilangan otoritas sebagai orang tua. Dengan pengetahuan yang selaras, tidak akan terjadi pertentangan instruksi yang dapat membuat anak bingung.
Upaya untuk Sinkronkan Pendidikan ini juga melibatkan penggunaan teknologi komunikasi yang bijaksana. Pihak pesantren menyediakan portal digital khusus di mana orang tua bisa memantau kurikulum apa yang sedang dipelajari anak dan nilai karakter apa yang sedang ditekankan pada bulan tersebut. Misalnya, jika bulan ini pesantren sedang memfokuskan pada sifat kejujuran, maka orang tua di rumah juga diminta untuk memberikan teladan dan apresiasi terhadap sikap jujur anak dalam hal sekecil apa pun. Pola Pendidikan Rumah yang suportif terhadap kurikulum pesantren ini terbukti mempercepat proses internalisasi nilai pada diri santri, karena mereka menemukan lingkungan yang konsisten di mana pun mereka berada.
Selain itu, program di Pesantren ini juga menekankan pada pentingnya keteladanan atau uswah hasanah. Orang tua diajarkan bahwa mereka adalah madrasah pertama bagi anak-anak mereka. Darul Hidayahul mendorong para ayah untuk lebih terlibat dalam kedekatan emosional dengan anak laki-lakinya, sementara para ibu berperan sebagai pilar kelembutan dan kebijaksanaan. Kolaborasi ini juga mencakup pengaturan penggunaan gawai saat santri berada di rumah. Pesantren dan orang tua sepakat mengenai batasan waktu dan jenis konten yang boleh dikonsumsi, sehingga disiplin yang telah dibangun di asrama tidak hancur seketika saat anak mendapatkan kebebasan di rumah.
