Suara takbir yang menggema menandai datangnya hari kemenangan, sebuah momen lebaran yang dinantikan oleh umat Muslim di seluruh dunia. Bagi sebagian orang, hari raya identik dengan berkumpul bersama keluarga di kampung halaman. Namun, bagi ribuan santri yang memilih untuk tinggal di pondok, momen lebaran memiliki makna yang berbeda. Mereka mungkin jauh dari keluarga kandung, tetapi mereka menemukan kehangatan dan rasa memiliki di antara para guru (kyai) dan sesama santri. Lingkungan pesantren menjadi “rumah kedua” di mana persaudaraan dan kekeluargaan terasa begitu kuat, membuat momen lebaran tetap terasa meriah dan penuh makna.
Merayakan Lebaran dengan Keluarga Baru
Pagi Hari Raya Idulfitri, suasana di pesantren tidak kalah meriah dengan di rumah. Santri dan kyai bersama-sama melaksanakan salat Ied, diikuti dengan khotbah yang menyentuh hati. Setelah itu, tradisi bermaaf-maafan atau sungkem dilakukan secara massal. Santri berbaris untuk mencium tangan para kyai dan guru, meminta maaf atas segala kesalahan. Momen ini bukan hanya formalitas, tetapi juga wujud nyata dari rasa hormat dan cinta yang mendalam. Sebuah laporan dari Kementerian Agama Republik Indonesia pada 15 April 2025, mencatat bahwa tradisi ini memperkuat ikatan emosional dan spiritual antara santri dan para pengajar.
Hidangan Khas dan Kebersamaan
Setelah salat dan maaf-maafan, acara dilanjutkan dengan makan bersama. Pengelola pesantren biasanya menyiapkan hidangan khas lebaran seperti ketupat, opor ayam, dan rendang. Santri makan bersama dalam satu nampan besar, berbagi cerita, dan tertawa lepas. Kebersamaan ini adalah esensi dari momen lebaran di pesantren. Mereka yang tidak bisa pulang ke rumah karena jarak atau biaya tidak merasa sendirian; mereka memiliki keluarga besar di pondok.
Sebuah wawancara dengan santri senior, Faisal, pada 17 April 2025, mengungkapkan, “Tentu saja saya rindu rumah, tapi di sini saya tidak merasa kesepian. Kami punya keluarga baru. Kami saling menguatkan, dan momen lebaran di sini juga sangat berkesan.”
Pada akhirnya, momen lebaran di pesantren adalah bukti bahwa keluarga tidak selalu ditentukan oleh ikatan darah. Di dalam lingkungan pondok, santri menemukan persaudaraan yang tulus, bimbingan yang penuh kasih, dan kehangatan yang membuat mereka merasa seperti di rumah. Ini adalah pelajaran berharga bahwa cinta dan persaudaraan dapat ditemukan di mana saja, bahkan jauh dari kampung halaman.
