Pesantren di Indonesia memiliki kekayaan tradisi pembelajaran, dan salah satu yang paling khas serta efektif adalah Metode Sorogan. Ini adalah sebuah tradisi belajar individual di mana santri secara langsung berhadapan dengan kiai atau ustadz untuk membaca, menerjemahkan, dan memahami kitab kuning. Metode Sorogan ini menjadi tulang punggung pendidikan di banyak pesantren salafiyah, memungkinkan transfer ilmu yang mendalam dan personal. Artikel ini akan mengupas lebih jauh mengapa Sorogan tetap menjadi pilihan yang efektif dalam mencetak ahli agama.
Keunggulan utama dari Metode Sorogan terletak pada interaksi satu lawan satu antara santri dan pengajar. Dalam sesi sorogan, santri membacakan teks kitab kuning di hadapan kiai atau ustadz. Kiai akan mendengarkan dengan seksama, mengoreksi bacaan yang keliru, menjelaskan makna kata yang sulit, serta menguraikan konteks dan implikasi hukum dari suatu bab. Pendekatan personal ini memungkinkan pengajar untuk memahami tingkat pemahaman setiap santri secara spesifik, sehingga bimbingan dapat diberikan sesuai dengan kebutuhan individu. Hal ini berbeda dengan sistem klasikal di mana pengajar harus membagi perhatian untuk banyak siswa sekaligus.
Selain transfer ilmu, Metode Sorogan juga memiliki peran penting dalam pembentukan karakter santri. Proses ini melatih kemandirian, kedisiplinan, dan keberanian santri untuk bertanya dan berinteraksi langsung dengan guru. Rasa hormat dan takzim kepada kiai juga tumbuh secara alami melalui interaksi intens ini. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Pusat Kajian Pendidikan Islam pada Maret 2023 menunjukkan bahwa santri yang aktif dalam sorogan cenderung memiliki pemahaman kitab yang lebih mendalam dan kemampuan kritis yang lebih baik dibandingkan yang hanya mengandalkan metode pasif.
Meskipun terlihat tradisional, efektivitas Metode Sorogan tak lekang oleh waktu. Ia telah melahirkan banyak ulama besar di Indonesia. Bahkan di era modern, banyak pesantren tetap mempertahankan sorogan sebagai inti pembelajaran kitab kuning mereka. Misalnya, di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, sorogan masih menjadi bagian esensial dari kurikulum. Pada acara Haul Kiai Zainal Abidin yang diselenggarakan pada tanggal 10 Juni 2025, salah satu alumni senior memberikan testimoni bahwa keberanian dan kedalaman ilmunya saat ini tak lepas dari gemblengan sorogan yang ia jalani selama di pesantren. Dengan demikian, sorogan bukan hanya sekadar metode pengajaran, melainkan warisan berharga yang terus membuktikan efektivitasnya dalam membentuk intelektual muslim yang mumpuni.
