Di tahun 2025 ini, di tengah derasnya arus informasi, pondok pesantren tetap kokoh mempertahankan tradisi keilmuan yang otentik, salah satunya adalah kajian hadits dengan sanad yang bersambung. Jejak sejarah ilmu ini, yang menghubungkan para santri dengan Rasulullah SAW melalui rantai periwayat yang terverifikasi, adalah bukti betapa seriusnya pesantren dalam menjaga kemurnian ajaran Islam. Artikel ini akan mengajak kita mengenal lebih dekat jejak sejarah ilmu hadits di pesantren, serta bagaimana tradisi sanad ini menjadi pilar penting dalam membentuk keilmuan santri yang kuat dan teruji.
Tradisi sanad dalam kajian hadits adalah keunikan sekaligus keunggulan pesantren. Sanad adalah rantai para periwayat hadits, dari guru ke guru, hingga bersambung kepada Nabi Muhammad SAW. Dengan memiliki sanad, seorang santri atau ulama dapat memastikan bahwa hadits yang mereka pelajari dan ajarkan adalah valid dan berasal dari sumber yang terpercaya. Proses pembelajaran hadits di pesantren dimulai dengan mempelajari kitab-kitab induk seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, dan lainnya, seringkali dengan sistem sorogan (santri membaca di hadapan guru) atau bandongan (guru membaca dan santri menyimak serta mencatat). Setiap kalimat, bahkan setiap huruf, ditelaah dengan cermat.
Jejak sejarah ilmu ini tidak hanya sekadar menghafal matan (teks) hadits, tetapi juga memahami ilmu hadits (musthalah hadits), yaitu disiplin ilmu yang mempelajari metode periwayatan, status perawi, dan tingkat keaslian hadits (shahih, hasan, dha’if). Santri diajarkan untuk bersikap kritis terhadap informasi, memverifikasi sumber, dan tidak mudah menerima begitu saja tanpa bukti. Hal ini sangat relevan di era modern yang penuh dengan disinformasi. Dalam sebuah seminar internasional tentang Hadits dan Kontemporer yang diselenggarakan oleh salah satu perguruan tinggi Islam terkemuka di Indonesia pada 18 April 2025, Profesor Dr. Ahmad Fauzi dari Universitas Al-Azhar Kairo, menekankan bahwa “Tradisi sanad adalah benteng terdepan umat dari penyimpangan ajaran.”
Jejak sejarah ilmu hadits di pesantren juga membentuk karakter santri menjadi pribadi yang teliti, sabar, dan jujur dalam menyampaikan ilmu. Mereka memahami bahwa amanah periwayatan hadits adalah tanggung jawab besar yang tidak boleh main-main. Konsistensi dalam mempelajari hadits secara mendalam juga menumbuhkan kecintaan terhadap sunnah Nabi dan menginspirasi mereka untuk meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari. Banyak alumni pesantren yang kemudian menjadi pakar hadits atau muhaddits yang diakui, melanjutkan estafet keilmuan ini.
Pada akhirnya, tradisi sanad dan kajian hadits di pesantren adalah sebuah mutiara jejak sejarah ilmu yang tak ternilai harganya. Ia memastikan kemurnian ajaran Islam tetap terjaga, sekaligus melahirkan generasi santri yang memiliki keilmuan yang kokoh, kritis, dan berintegritas tinggi, siap menjadi penerus para ulama dalam membimbing umat di tengah tantangan zaman yang terus berkembang.
