Dua Sisi Koin Sorogan: Kecepatan Santri Berilmu dan Pengawasan Mutu oleh Pengajar

Metode Sorogan di pesantren dikenal memiliki dualitas manfaat yang sangat strategis: pertama, memberikan otonomi bagi santri untuk menentukan Kecepatan Santri Berilmu mereka sendiri; dan kedua, menjamin pengawasan mutu yang ketat oleh Kyai atau Ustadz. Kecepatan Santri Berilmu dalam metode Sorogan sangat bergantung pada inisiatif, kedisiplinan, dan daya tangkap individu, yang secara langsung berkorelasi dengan frekuensi santri menghadap guru. Dualitas manfaat inilah yang menjadikan Kecepatan Santri Berilmu dan quality control berjalan beriringan.

Sisi pertama dari koin ini adalah Kecepatan Santri Berilmu. Karena Sorogan adalah sistem one-on-one dan berbasis pada kesiapan santri, seorang santri yang memiliki bakat, tekad tinggi, dan daya tangkap cepat dapat menyelesaikan sebuah kitab dalam waktu yang jauh lebih singkat dibandingkan santri lain. Santri-santri unggul ini dapat mempersiapkan materi lebih banyak setiap harinya dan menyodorkannya kepada guru sesering mungkin. Hal ini sangat memotivasi santri untuk belajar mandiri (muroja’ah) secara intensif. Sebaliknya, santri yang membutuhkan waktu lebih lama diizinkan untuk berjalan dengan kecepatannya sendiri, sehingga tidak merasa tertekan oleh kelompok, namun tetap dipantau perkembangannya. Keunggulan otonomi belajar ini sangat berbeda dengan sistem kelas umum yang cenderung seragam.

Sisi kedua adalah Pengawasan Mutu yang Intensif. Ketika santri menyodorkan kitab, Kyai atau Ustadz bertindak sebagai auditor ilmu secara pribadi. Mereka mengoreksi tidak hanya bacaan (harakat dan i’rab), tetapi juga kedalaman pemahaman (syarah) santri. Pengawasan ini bersifat koreksi instan, yang memastikan kesalahan teknis atau pemahaman santri segera diperbaiki sebelum menjadi kebiasaan. Misalnya, jika santri salah dalam mengaplikasikan kaidah Mubtada’ Khobar dari Kitab Jurumiyah, Kyai akan langsung mengoreksi dan memberikan contoh hingga santri tersebut benar-benar paham. Pengawasan mutu ini sangat penting untuk ilmu-ilmu dasar (ilmu alat), di mana kesalahan kecil di awal dapat menghambat pemahaman kitab-kitab lanjutan.

Efektivitas sistem ini dapat dilihat dari jadwal yang ketat. Di Pondok Pesantren XYZ, Ustadz yang bertugas melayani Sorogan diwajibkan untuk mencatat perkembangan setiap santri dalam jurnal harian yang dilaporkan kepada Kyai setiap akhir pekan, yaitu hari Jumat. Laporan tanggal 25 Oktober 2024 menunjukkan bahwa rata-rata santri membutuhkan waktu 40 hari untuk menyelesaikan Kitab Ta’lim Muta’allim melalui Sorogan, namun variasi waktu penyelesaian antar santri bisa mencapai dua kali lipat, membuktikan bahwa Kecepatan Santri Berilmu memang bersifat personal dan diawasi ketat. Dengan demikian, Sorogan berhasil menyeimbangkan antara otonomi belajar santri dan standar kualitas akademik pesantren yang tinggi.

Theme: Overlay by Kaira Extra Text
Cape Town, South Africa