Darul Hidayatul: Pelestarian Seni Membaca Al-Qur’an ( Qira’at Sab’ah) dan Pengajaran Tajwid Tradisional

Al-Qur’an adalah teks suci, namun ia juga merupakan sebuah karya seni akustik yang diwahyukan. Cara pembacaannya (Tilawah) memiliki aturan yang sangat ketat yang dikenal sebagai ilmu Tajwid, sementara variasi cara membacanya yang otentik dikenal sebagai Qira’at Sab’ah (Tujuh Qira’at). Di era modern, di mana pembacaan Al-Qur’an sering kali direduksi menjadi sekadar kompetisi suara merdu, institusi seperti Darul Hidayatul memegang peranan krusial dalam melestarikan seni membaca Al-Qur’an dan pengajaran Tajwid tradisional yang berfokus pada keotentikan riwayat (transmisi) dan sanad.

Pelestarian Tajwid tradisional adalah jantung dari otentisitas tilawah. Ilmu Tajwid bukan hanya tentang keindahan, melainkan tentang menjaga kemurnian teks Al-Qur’an dari kesalahan pengucapan (lahn). Setiap huruf, panjang pendek (mad), dan titik artikulasi (makharijul huruf) harus dilafalkan persis seperti yang diajarkan oleh Rasulullah $\text{S A W}$ dan diturunkan melalui rantai guru-murid yang tidak terputus (sanad). Metode pengajaran tradisional di pesantren, seperti Talaqqi (mengaji langsung di hadapan guru dan guru mengoreksi), menjadi kunci dalam memastikan setiap detail Tajwid dipelajari secara presisi. Santri tidak hanya membaca; mereka melatih otot-otot bicara mereka untuk menghasilkan bunyi yang otentik.

Lebih jauh lagi, pelestarian Qira’at Sab’ah (Tujuh Ragam Bacaan) menunjukkan kedalaman khazanah bacaan Al-Qur’an. Setiap qira’at memiliki seperangkat aturan tajwid dan usul (prinsip) yang berbeda, namun semuanya sah dan berasal dari Nabi $\text{S A W}$. Mempelajari Qira’at Sab’ah bukan hanya menambah wawasan, tetapi juga memperkuat keyakinan akan mukjizat Al-Qur’an yang kaya. Institusi seperti Darul Hidayatul berfungsi sebagai madrasah khusus untuk Qira’at, memastikan bahwa ilmu yang sangat spesifik dan membutuhkan waktu lama untuk dikuasai ini tidak hilang digerus waktu.

Tantangan di era digital adalah munculnya qari/qari’ah yang berfokus pada improvisasi melodi (lagu) demi nilai hiburan, seringkali mengorbankan akurasi Tajwid atau qira’at. Pesantren, melalui Darul Hidayatul, harus bertindak sebagai penyeimbang. Mereka mengajarkan bahwa tarannum (melodi) adalah pemanis, tetapi Tajwid adalah fondasi. Tanpa Tajwid yang benar, keindahan vokal tidak akan bernilai di mata ilmu Qira’at.

Oleh karena itu, upaya pelestarian ini melibatkan beberapa langkah: penguatan sistem Talaqqi dan Tasmi’ (memperdengarkan hafalan) yang ketat; penyediaan guru yang memiliki sanad Tajwid dan Qira’at yang jelas; dan edukasi kepada masyarakat bahwa nilai utama tilawah adalah keotentikan dan kekhusyukan, bukan semata-mata performa. Dengan melestarikan Tajwid tradisional dan Qira’at Sab’ah, Darul Hidayatul memastikan bahwa warisan unik Nabi $\text{S A W}$ dalam melantunkan wahyu tetap utuh dan terus menginspirasi umat.

Theme: Overlay by Kaira Extra Text
Cape Town, South Africa